Epiaode 1 : Sang pelayan yang tidak bisa bersihir





Episode 1 – Sang Pelayan yang Tak Bisa Bersihir

Episode 1 – Sang Pelayan yang Tak Bisa Bersihir

Langit berwarna ungu tua. Kabut tipis menyelimuti Menara Ilmu Agraeth, sekolah sihir tertua di benua Kaldrath. Di balik gerbang besi yang menjulang, para bangsawan muda sibuk mempersiapkan ujian tahunan. Namun di bawah semua itu, di lorong sempit asrama tua, seorang pelayan membersihkan lantai batu dingin.

Pelayan:

“Kalau tidak cepat, Master Allven akan marah lagi…”

Tubuhnya kurus, rambutnya coklat kusam, dan tangannya kasar. Pemuda itu bernama Lann. Sejak lahir, ia tidak memiliki mana. Dalam dunia sihir, itu setara dengan kutukan. Ia bukan murid. Ia bahkan bukan warga penuh. Ia hanyalah—pengisi ruang tak penting.

◇ ◆ ◇

Tapi malam itu berbeda. Saat ia tertidur di lantai dapur yang dingin, tubuhnya gemetar dan nafasnya melemah. Dan saat dunia sekelilingnya memudar… sesuatu masuk ke dalam dirinya.

??? (Makhluk dari Ruang Putih):

“Kesadaran terhubung. Jiwa 001-HY ditanamkan.”

Lann—bukan lagi Lann. Di dalam tubuh itu, berdiri jiwa pria tua bernama Haryo. Tubuh muda. Dunia asing. Tapi jiwa… tetap miliknya.

“Tubuh muda? Dunia sihir? Aku… hidup kembali?”

Ia berdiri perlahan. Kepalanya berat, tapi pikirannya tajam. Ia menyentuh dinding, merasakan energi samar dari batu yang tertanam rune. Ia tidak mengerti… tapi tubuh ini paham.

Haryo (dalam tubuh Lann):

“Tubuh ini lemah… tapi menyimpan kenangan sihir dasar. Menarik.”

◇ ◆ ◇

Pagi hari, ia dikira tetap sebagai Lann. Tak ada yang tahu bahwa kini tubuh itu berisi jiwa seorang pria dari dunia lain. Ia melayani, mencuci, menggosok, mengikuti jadwal seperti biasa.

Tapi diam-diam… ia membaca. Ia mencatat. Ia memperhatikan setiap murid saat mereka berlatih sihir dasar. Ia mencoba meniru… di gudang kosong saat malam.

“Kalau dunia ini pakai mantra dan fokus elemen, mungkin bisa kugabung dengan teknik pernapasan dari kehidupan terakhirku.”

Tangan kirinya terbakar ringan saat mencoba mantra api. Ia tertawa pelan, meski perih.

Haryo:

“Hidup kembali… bahkan sebagai pelayan, tetap lebih indah daripada mati sia-sia.”

◇ ◆ ◇

Dan jauh di langit malam, di balik bintang-bintang yang mengawasi… makhluk asing dari peradaban tinggi mencatat dengan tenang.

“Fase pertama: adaptasi berhasil. Subjek mengalami pertumbuhan kognitif dan integrasi keterampilan lintas dunia.”

Sementara itu, Haryo… belum tahu bahwa hidup ini hanyalah awal dari ribuan dunia yang akan ia jalani. Dan di masing-masing dunia, ia bukan hanya pelajar. Ia adalah saksi. Dan pada akhirnya… penentu.

Seribu Wujud, Satu Jiwa

🪐 Prolog – “Saat Nafas Terakhir Itu Bukan Akhir”

Kota kecil, pukul 04:12 pagi. Angin dingin mengiris pipi, jalanan basah oleh hujan semalam.
Seorang pria tua duduk di bangku taman—sendiri, diam, dengan mata yang memandang langit kosong.

Haryo, 73 tahun.
Dunia sudah melupakannya.
Anak-anaknya sibuk. Teman-temannya sudah mati.
Tubuhnya lemah. Hidupnya biasa.
Dan malam ini… dia tahu waktunya habis.

“Kalau bisa hidup lagi… aku nggak mau sia-siakan.”

Ia memejamkan mata.
Dan di detik keheningan itu… jantungnya berhenti.

Tapi tidak ada gelap.
Tidak ada nyeri.
Tidak ada akhir.


🌀 Ruang Putih

Saat Haryo membuka mata, ia tidak melihat surga.
Ia berada di ruangan putih… tak berdinding, tak berujung.
Dan di hadapannya berdiri… sosok asing.

Bentuknya menyerupai manusia, tapi… terlalu simetris.
Terlalu sempurna.
Kulitnya bersinar samar, dan matanya—tak punya pupil.

“Subjek terkonfirmasi: Kesadaran aktif dalam jiwa 001-HY.”

Haryo terdiam.
“…Apa aku mati?”

“Benar. Dan juga… belum.”

Makhluk itu melangkah pelan. Suaranya tidak seperti suara,
lebih seperti pikiran yang dibisikkan langsung ke kepala Haryo.

“Kami dari peradaban observasional tingkat-13.
Tujuan kami: mempelajari fenomena lintas kesadaran di berbagai struktur realitas.
Jiwa-mu terpilih karena tingkat kestabilannya—dan keinginanmu.”

“Kau ingin hidup lagi, bukan?”


Haryo mengangguk… setengah bingung, setengah berharap.

“Kami akan mengirimmu.
Ke tubuh-tubuh pria lain. Di berbagai dunia.
Dunia sihir. Dunia besi. Dunia jiwa. Dunia darah.
Semua pria itu… akan kau jalani sampai mati.”

“Setiap hidup adalah data.
Setiap mati, kau kembali ke sini.”

Haryo hampir tertawa.
“Lalu, apa aku akan jadi kuat? Kaya? Pahlawan?”

“Tugasmu bukan menang. Tugasmu… menjalani.
Mempelajari.
Menjadi.”

“Dan ya…
Setiap kemampuan yang kamu pelajari,
akan tetap bersamamu selamanya.”


🌌 Penutup Prolog

Haryo menatap tangannya sendiri.
Ia tidak lagi merasakan lelah.
Tidak merasa tua.
Tidak merasa takut.

Ia mengangguk.

“Baik. Kirim aku.”

Langit putih runtuh seperti kaca.
Dunia pertama mulai terbentuk.
Udara berubah. Tanah muncul. Gunung menjulang.

Dunia sihir. Tubuh pertama.
Seorang pemuda miskin yang terlahir tanpa “mana”.
Sekolah sihir hanya mengenalnya sebagai pelayan asrama.
Tapi malam ini… jiwanya diganti.
Menjadi Haryo.