🪐 Prolog – “Saat Nafas Terakhir Itu Bukan Akhir”
Kota kecil, pukul 04:12 pagi. Angin dingin mengiris pipi, jalanan basah oleh hujan semalam.
Seorang pria tua duduk di bangku taman—sendiri, diam, dengan mata yang memandang langit kosong.
Haryo, 73 tahun.
Dunia sudah melupakannya.
Anak-anaknya sibuk. Teman-temannya sudah mati.
Tubuhnya lemah. Hidupnya biasa.
Dan malam ini… dia tahu waktunya habis.
“Kalau bisa hidup lagi… aku nggak mau sia-siakan.”
Ia memejamkan mata.
Dan di detik keheningan itu… jantungnya berhenti.
Tapi tidak ada gelap.
Tidak ada nyeri.
Tidak ada akhir.
🌀 Ruang Putih
Saat Haryo membuka mata, ia tidak melihat surga.
Ia berada di ruangan putih… tak berdinding, tak berujung.
Dan di hadapannya berdiri… sosok asing.
Bentuknya menyerupai manusia, tapi… terlalu simetris.
Terlalu sempurna.
Kulitnya bersinar samar, dan matanya—tak punya pupil.
“Subjek terkonfirmasi: Kesadaran aktif dalam jiwa 001-HY.”
Haryo terdiam.
“…Apa aku mati?”
“Benar. Dan juga… belum.”
Makhluk itu melangkah pelan. Suaranya tidak seperti suara,
lebih seperti pikiran yang dibisikkan langsung ke kepala Haryo.
“Kami dari peradaban observasional tingkat-13.
Tujuan kami: mempelajari fenomena lintas kesadaran di berbagai struktur realitas.
Jiwa-mu terpilih karena tingkat kestabilannya—dan keinginanmu.”
“Kau ingin hidup lagi, bukan?”
Haryo mengangguk… setengah bingung, setengah berharap.
“Kami akan mengirimmu.
Ke tubuh-tubuh pria lain. Di berbagai dunia.
Dunia sihir. Dunia besi. Dunia jiwa. Dunia darah.
Semua pria itu… akan kau jalani sampai mati.”
“Setiap hidup adalah data.
Setiap mati, kau kembali ke sini.”
Haryo hampir tertawa.
“Lalu, apa aku akan jadi kuat? Kaya? Pahlawan?”
“Tugasmu bukan menang. Tugasmu… menjalani.
Mempelajari.
Menjadi.”
“Dan ya…
Setiap kemampuan yang kamu pelajari,
akan tetap bersamamu selamanya.”
🌌 Penutup Prolog
Haryo menatap tangannya sendiri.
Ia tidak lagi merasakan lelah.
Tidak merasa tua.
Tidak merasa takut.
Ia mengangguk.
“Baik. Kirim aku.”
Langit putih runtuh seperti kaca.
Dunia pertama mulai terbentuk.
Udara berubah. Tanah muncul. Gunung menjulang.
Dunia sihir. Tubuh pertama.
Seorang pemuda miskin yang terlahir tanpa “mana”.
Sekolah sihir hanya mengenalnya sebagai pelayan asrama.
Tapi malam ini… jiwanya diganti.
Menjadi Haryo.
